Manchester United itu ibarat orang yang tiap pagi bangun tidur, berdiri di depan kaca, lalu nanya ke dirinya sendiri: "Aku ini siapa, ya?" Bedanya, kalau orang biasa mungkin masih bisa jawab: pegawai, pedagang, guru, atau minimal bapaknya siapa. Nah, United? Mereka bingung. Mau jadi tim besar? Ya namanya besar. Mau jadi tim juara? Sejarahnya penuh trofi. Tapi di lapangan sekarang, wajahnya lebih mirip tim seminar motivasi: banyak kata-kata inspiratif, tapi ketika ditanya "mana hasilnya?", semua mendadak hilang sinyal.
Kekalahan 1-3 dari Brentford kemarin itu bukan sekadar kalah. Itu seperti undangan resmi ke seluruh dunia untuk menonton drama: "Inilah United, tim yang lupa cara menjadi dirinya sendiri."
Saat dulu masuk Ruben Amorim, pelatih muda, energik, gaya 3-4-3, katanya penuh pressing, progresif, berani kasih kesempatan pemain muda. Di Sporting Lisbon, dia ini wangi---mirip parfum baru yang bikin semua orang melirik. Lalu ketika dibawa ke Old Trafford, harapannya bisa menyegarkan ruangan yang pengap sejak ditinggal Ferguson.
Eh ternyata, begitu semprotan pertama, baunya cepat hilang. Identitas yang katanya mau dibawa? Entah tersangkut di Bandara Heathrow atau nyasar ke gudang Adidas. Amorim lebih sering terlihat kebingungan: mau main ball possession takut kebobolan, mau pressing tinggi takut kecapekan, mau main reaktif takut dicap "tim kecil". Akhirnya? United jadi tim yang mainnya setengah-setengah, kayak orang diet tapi tiap malam masih ngemil gorengan.
Masalahnya bukan cuma Amorim. Sejak Ferguson pamit tahun 2013, United itu kayak mantan yang susah move on. Semua pacar barunya---Moyes, Van Gaal, Mourinho, Solskjaer, Ten Hag---diperlakukan bukan sebagai pelatih, tapi sebagai "terapi pengganti". Padahal, ya mana bisa ada pengganti Ferguson?
United hidup dari nostalgia. Mereka sering bicara soal "DNA klub", tapi DNA itu kini lebih mirip hasil fotokopi lusuh di ruang arsip, bukan darah yang mengalir segar di lapangan. Jika dibadningkan dengan tetengga mereka, City main dengan kejelasan visi Guardiola: mau ngapain, bagaimana caranya, sampai detail jarak antar pemain pun mereka hafal. United? Mereka sibuk bertanya, "Kita ini sebenarnya tim apa, ya?"
Mereka seperti kehilangan identitas. Ini yang paling fatal. Klub sebesar United mestinya punya identitas yang tak tergoyahkan. Mau ganti pelatih sepuluh kali, gaya main tetap bisa dikenali. Barcelona dengan tiki-taka, Liverpool dengan gegenpressing, City dengan posisional play. United? Paling banter dikenal dengan identitas "klub yang suka menghabiskan duit buat transfer mahal, tapi hasilnya seperti membeli blender mahal hanya untuk bikin es teh manis."
Kalau ditanya: apakah mereka klub yang membangun dari akademi? Bisa iya, tapi akademinya sering diabaikan. Apakah mereka tim pressing tinggi? Tidak jelas. Tim pragmatis? Setengah hati. Jadinya: Frankenstein FC, potongan-potongan ide yang dijahit jadi satu, tapi tidak ada roh yang hidup di dalamnya.
Solusinya bukan lagi sekadar gonta-ganti pelatih. United perlu keberanian untuk membangun identitas sepak bola yang konsisten. Itu artinya ada visi panjang, ada kesabaran, ada kesadaran bahwa trofi tidak bisa dipetik dengan cara instan seperti mie seduh. Tapi masalahnya: pemilik klub, fans, dan manajemen seringkali tidak sabar. Mereka ingin hasil cepat, seolah sepak bola bisa diproses dengan tombol "skip intro".
Padahal, City bisa dominan karena mereka sabar menunggu Guardiola menanam filosofi. Liverpool bangkit karena Klopp diberi waktu. United? Baru juga setahun setengah, pelatihnya sudah dipertanyakan.
Penutup : Sebuah Ironi
Kekalahan yang kembali terulang kemarin hanyalah cermin. Kadang mereka main seolah-olah masih zaman Ferguson, penuh wibawa dan disiplin. Besoknya berubah jadi tim eksperimental, entah mau pressing tinggi, entah mau parkir bus, atau sekadar main tebak-tebakan "siapa yang salah umpan duluan." Identitas? Sudah lama hilang, mungkin tercecer di ruang ganti Old Trafford.
Mereka seperti orang yang masuk ke pesta, pakai jas, tapi lupa bawa undangan. Besar namanya, megah sejarahnya, tapi ketika diajak bicara soal identitas sepak bola hari ini, jawabannya hanya berupa tatapan kosong. Dunia pun mengangguk-angguk: "Mu kalah? Oh, biasa." Ironisnya, MU hari ini lebih mirip sinetron dengan judul panjang: Tim Besar dengan Stadion Megah, Fans Sejagad, tapi di Lapangan Mainnya kayak Klub Medioker.
Mungkin, sebelum bermimpi juara liga, United harus belajar dulu hal sederhana: mengenali dirinya sendiri. Karena kalau sebuah tim sebesar itu saja bingung dengan jati dirinya, bagaimana mungkin orang lain bisa percaya pada mereka? Klub yang lebih sibuk dengan nostalgia dan belanja pemain, ketimbang membangun jiwa permainan. Sebuah tim besar yang tersesat di jalan pulang.
Kekalahan semalam adalah cermin kecil dari kebingungan besar itu. Pemain bintang seperti lupa peran, strategi tampak seperti draft kasar, dan fans harus rela menonton dengan perasaan campur aduk: marah, kecewa, tapi tetap tidak bisa berhenti mencintai. MU hari ini seperti seseorang yang punya nama besar, tapi tidak tahu lagi bagaimana cara hidup dengan nama itu.
MU hari ini bukan lagi Red Devils. Mereka lebih cocok disebut Red Drama: tiap minggu bikin episode baru, tapi ending-nya selalu sama---kalah. Jadi, apakah mereka masih tim besar? Di atas kertas? iya. Di hati fans? tentu. Tapi di lapangan? gak jelas. Klub kuat? Hmm... hanya kalau main FIFA di PlayStation.