Selasa, 30 September 2025

Kenangan Pangan Desa yang Tak Tergantikan

 

Di balik gemerlap modernitas dan makanan instan yang kini mudah ditemui di kota, tersimpan kenangan tentang pangan desa yang begitu membekas dan tak tergantikan. Ia bukan sekadar soal rasa, tetapi tentang ikatan, kearifan, dan kehidupan.


1. Rasa yang Mengandung Cerita


Makanan desa bukan hasil produksi masif atau resep dari buku masak terkenal. Ia lahir dari tangan-tangan ibu dan nenek, dari hasil kebun sendiri, dari sawah dan ladang yang dijaga dengan cinta. Sepiring nasi jagung dengan sayur kelor dan sambal terasi, mungkin terlihat sederhana, tapi tiap suapan menyimpan cerita—tentang musim panen, kerja bakti, dan kebersamaan keluarga.


2. Bahan Lokal, Kearifan Lokal


Setiap bahan pangan desa adalah cermin dari ekosistem lokal dan kearifan masyarakatnya. Daun singkong, jantung pisang, ikan hasil pancing di sungai, hingga rempah-rempah dari pekarangan—semua adalah hasil dari hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tak ada yang berlebihan, tak ada yang terbuang sia-sia.


3. Warisan yang Terlupakan


Kini, banyak makanan tradisional desa mulai terlupakan. Generasi muda lebih akrab dengan makanan cepat saji daripada dengan tiwul, growol, atau bubur merah-putih yang dulu menjadi hidangan istimewa. Padahal, di balik setiap resep itu, tersimpan nilai gotong royong, keberlanjutan, dan identitas budaya.


4. Makanan sebagai Jembatan Pulang


Bagi perantau, aroma masakan desa bisa jadi satu-satunya jalan pulang ke masa kecil. Masakan nenek di dapur kayu, suara lesung saat menumbuk padi, dan aroma asap dari tungku—semua adalah potongan kenangan yang tak tergantikan oleh restoran bintang lima sekalipun.


Penutup:

Kenangan pangan desa adalah warisan tak ternilai yang perlu dijaga. Bukan karena eksotis atau antik, tapi karena ia mengajarkan nilai kehidupan yang sejati: kebersahajaan, keberlanjutan, dan cinta. Di tengah derasnya arus modernisasi, mari kita tengok kembali dapur-dapur desa, karena di sanalah identitas kita bermula.

Gen Z Barca Siap Bikin Juara Bertahan Eropa Keringat Dingin!


Ingat masa-masa ketika Messi, Surez, dan Neymar bikin Camp Nou serasa pesta setiap kita streaming UCL? Trio itu sekarang tinggal jadi bahan nostalgia YouTube. Tapi cerita Barcelona nggak berhenti begitu aja. Di bawah asuhan Hansi Flick, Blaugrana lagi-lagi bangkit. Musim kemarin mereka nyapu bersih treble domestik --- La Liga, Copa del Rey, plus satu gelar tambahan Spanish Cup.


Sekarang, muncul wajah segar: Lamine Yamal sampai yang baru debut yaitu Pedro Fernandez. Yamal, orang orang biasa menyebutnya bocah ajaib diusianya yang masih belasan tahun tapi udah jadi mimpi buruk bek-bek lawan. Ditambah Pedri Gonzalez yang makin matang udah menjelma bak Iniesta dan Raphinha yang lagi on-fire, Barca punya amunisi baru buat bikin PSG mikir dua kali buat ngremehin mereka.


PSG Jawara Eropa, dan Dembele Lagi Puncak Karir

Kalau ngomong PSG, nggak bisa lepas dari musim lalu yang cukup sukses di domestic dan Eropa. Setelah sekian lama jadi bahan meme "klub kaya nggak pernah juara Eropa", mereka akhirnya angkat trofi Liga Champions setelah ngegulung abis Inter Milan 5-0 di final.


Ousmane Dembl jadi pemain paling jago 2025. Eks pemain Barca itu bukan cuma angkat piala, tapi juga bawa pulang Ballon d'Or 2025. Ironis, kan? Dulu dicap inconsistent sampai si kaki kaca di Catalan, sekarang justru jadi bintang dunia di Paris.


Sementara Mbapp? Udah cabut ke Madrid. Jadi PSG sekarang bukan lagi "Mbapp FC", tapi tim yang lebih kolektif. Ada Dou yang lagi naik daun, Vitinha yang makin berani, dan tentu saja Dembl yang sekarang statusnya bukan sekadar winger lincah, tapi New King in Paris.


Siapa yang bakalan bikin keringetan besok Lusa?

Pertanyaan besarnya: siapa bakal bikin siapa keringetan? PSG jelas datang dengan mental juara, percaya diri habis, dan Dembl yang lagi di puncak puncak karirnya. Tapi di sisi lain, Barca punya amunisi muda yang lagi beringas.


Pertemuan ini juga penuh bumbu emosional. SemuaFans Barca pasti masih inget comeback 6-1 tahun 2017. Fans PSG, sebaliknya, masih simpan luka sekaligus dendam. Ditambah fakta Dembl balik ke Spanyol dengan status Ballon d'Or winner, rasanya laga ini bakal lebih panas daripada bumbu Nasi Pecel.


Kalau bicara taktik, PSG mungkin bakal dominasi lewat pressing tinggi dan serangan sayap. Tapi Barca punya Pedri untuk menenangkan tempo, serta Yamal, Raphinha, sampai Lewandowski yang bisa bikin gawang PSG kebobolan.


Calon Jawara Bisa Kita Lihat Besok Lusa!

Tertutup dari apa yang kita baca sebelumnya dua klub raksasa Prancis dan Spanyol ini pasti akan menyajikan laga yang engga boring dan seru banget!

10 Kuda Hitam Liga Champions yang Bisa Bikin Kejutan Besar


Kompetisi Liga Champions musim ini kembali menjadi pusat perhatian pecinta sepak bola. Format baru yang diterapkan membuat atmosfer lebih menegangkan.


Pengalaman musim lalu membuktikan bahwa posisi di fase awal bukan jaminan. Bahkan sang juara bisa memulai dengan catatan yang tidak meyakinkan.


Hal tersebut menegaskan bahwa perjalanan panjang di Liga Champions penuh dinamika. Setiap pekan bisa menghadirkan cerita yang berbeda.


Kesenjangan dana antar klub besar dan kecil memang semakin terasa. Namun sejarah menunjukkan, kejutan tetap punya ruang untuk terjadi.


Karenanya, daftar 10 kuda hitam pun muncul sebagai sorotan. Mereka dianggap punya peluang nyata untuk melangkah lebih jauh di kompetisi elit ini. 


1. Napoli

Napoli siap bersaing lagi di Liga Champions setelah sempat absen setahun. Status juara Serie A membuat mereka dianggap salah satu tim yang patut diwaspadai.

Antonio Conte kini memimpin proyek besar di Naples. Ia punya reputasi jitu dalam mengubah pemain yang diremehkan menjadi sosok berkelas dunia.

Transfer Rasmus Hojlund dan Kevin De Bruyne semakin memperkuat tim. Pertandingan perdana melawan Manchester City di Etihad diprediksi penuh drama untuk De Bruyne.


2. Tottenham

Tottenham mencatat sejarah dengan menjuarai kompetisi Eropa musim lalu, gelar pertama mereka setelah empat dekade lebih. Meski begitu, di panggung Liga Champions, catatan Spurs masih tergolong minim prestasi.

Mereka hanya tujuh kali tampil di turnamen tersebut dan prestasi tertinggi adalah runner-up pada 2019. Banyak yang masih meragukan kekuatan skuad saat harus berhadapan dengan lawan-lawan elite Eropa.

Thomas Frank, pelatih anyar Spurs, belum pernah mencicipi atmosfer Liga Champions sebelumnya. Namun bila ia bisa menyatukan tim, Tottenham punya materi pemain yang sanggup bersaing hingga babak akhir.


3. Athletic Bilbao

Bursa transfer musim panas memberi kabar baik bagi Athletic Bilbao. Klub Basque itu tidak kehilangan Nico Williams yang jadi incaran Barcelona.

Nico justru memilih meneken kontrak baru berdurasi panjang. Langkah ini memberi suntikan motivasi besar bagi tim dalam persaingan di semua kompetisi.

Ernesto Valverde kini bisa mengandalkan kombinasi Nico dan Inaki Williams untuk lini serang. Kehadiran Aymeric Laporte juga diyakini akan membuat pertahanan Bilbao lebih solid.


4. Atalanta

Musim ini, Atalanta memulai langkah baru tanpa Mateo Retegui yang sudah resmi pindah ke Arab Saudi. Padahal, Retegui jadi mesin gol utama dengan 25 torehan di Serie A musim lalu.

Untuk menutup lubang tersebut, Atalanta mendatangkan Niklo Krstovic dari Lecce. Harapannya, striker muda ini mampu cepat beradaptasi dengan gaya bermain Gian Piero Gasperini.

Perjalanan mereka dimulai melawan PSG di laga pembuka. Meski berat, undian berikutnya cukup bersahabat sehingga peluang lolos ke babak playoff tetap terbuka lebar.


5. Villarreal

Villarreal langsung memberi kejutan besar saat kembali ke Liga Champions. Mereka berhasil menundukkan Barcelona 3-2 di Camp Nou, hasil yang membuat tim ini semakin percaya diri.

Dua nama yang patut diperhatikan adalah Nicolas Pepe dan Ayoze Perez. Kombinasi keduanya menambah daya serang tim yang mencetak 71 gol di kompetisi domestik musim lalu.

Rekor Eropa mereka belum sampai juara, tetapi semifinal 2022 jadi bukti kualitas tim. Musim ini, start impresif dengan delapan gol dan hanya sekali kebobolan membuat Villarreal layak diwaspadai.


6. Newcastle

Kemenangan 4-1 atas PSG di St James’ Park pada 2023 sempat membangkitkan optimisme fans Newcastle. Banyak yang mengira momen itu jadi titik awal kebangkitan klub di pentas Eropa.

Sayangnya, performa mereka justru anjlok dengan hanya meraih satu kemenangan di fase grup. Newcastle pun harus angkat koper lebih awal dari Liga Champions musim itu.

Tantangan besar kembali menanti Eddie Howe dalam menyeimbangkan jadwal padat. Meski ditinggal Alexander Isak, kehadiran Bruno Guimaraes, Sandro Tonali, dan Nick Woltemade membuat Newcastle tetap berpotensi memberi kejutan, terutama dengan Barcelona sebagai lawan perdana di St James’ Park.


7. AS Monaco

AS Monaco tengah membangun ulang reputasinya setelah sempat membuat heboh Eropa pada era Kylian Mbappe muda. Klub asal Prancis itu kini kembali diperhitungkan di level tertinggi.

Secara domestik, Monaco rutin menempati posisi empat besar, meski belum cukup untuk benar-benar mengganggu kandidat juara. Meski begitu, performa stabil mereka tetap patut dipuji.

Beberapa nama penting seperti Mika Biereth, Denis Zakaria, dan Lamine Camara menjadi andalan tim. Dengan arahan Adi Hutter sejak 2023, Monaco berpotensi besar memberi perlawanan sengit di kompetisi Eropa.


8. Club Brugge

Rangers jadi saksi betapa kuatnya Club Brugge setelah kalah telak 9-1 di babak playoff. Klub asal Belgia itu juga menunjukkan variasi serangan dengan lima pencetak gol berbeda saat menang 6-0.

Alih-alih jor-joran belanja, Brugge memilih fokus pada regenerasi skuad. Empat pemain muda berusia 21 tahun atau lebih sudah masuk tim untuk menatap masa depan.

Di liga domestik, konsistensi Brugge terlihat dengan seringnya mereka finis di posisi empat besar. Sedangkan di kompetisi Eropa, langkah mereka terhenti di perempat final 2025 oleh Aston Villa.


9. Galatasaray

Galatasaray jarang memiliki penyerang kelas dunia, namun kedatangan Victor Osimhen mengubah peta kekuatan. Sang bomber Nigeria jatuh hati pada klub dan ditebus permanen dengan harga 75 juta euro.

Osimhen kini dipandang sebagai kunci peluang Galatasaray untuk melangkah lebih jauh. Meski demikian, tradisi mereka di Liga Champions memang belum sebesar klub elite Eropa.

Sejauh ini pencapaian terbaik Galatasaray hanya semifinal pada tahun 1989 di era European Cup. Namun kehadiran Osimhen membuat klub seperti Liverpool dan Manchester City wajib waspada bila bertemu mereka.


10. PSV

PSV Eindhoven muncul sebagai wakil Belanda paling meyakinkan untuk bersaing di Eropa. Musim lalu mereka berhasil mengungguli Ajax dalam perebutan gelar juara domestik.

Kekuatan utama tim ada di sektor tengah lewat duet Jerdy Schouten dan Joey Veerman. Selain itu, sosok Ivan Perisic masih jadi andalan walau usianya sudah menyentuh 36 tahun.

Perisic membuka musim dengan catatan impresif, mencetak satu gol dan memberikan tiga assist. PSV pun meraih tiga kemenangan dari empat laga awal liga, meski di kompetisi Eropa musim lalu langkah mereka terhenti di babak 16 besar setelah disingkirkan Arsenal dengan agregat 9-3.

Man of the Match Kairat vs Real Madrid : Kylian Mbappe



Superstar Real Madrid, Kylian Mbappe, terpilih sebagai Man of the Match di pertandingan melawan Kairat Almaty di Ortalyq Stadion di Liga Champions 2025/2026, Selasa (30/09/2025) dini hari WIB.


Laga Kairat vs Madrid ini merupakan laga matchday 2 league phase Liga Champions 2025/2026. Pertandingan ini memang dimenangkan Los Blancos tapi sang tuan rumah sempat memberikan perlawanan sengit.


Di babak pertama, Madrid hanya bisa mencetak satu gol saja melalui Kylian Mbappe. Barulah di babak kedua mereka bisa mencetak empat gol tambahan.


Mbappe menambah dua gol. Sementara dua gol lainnya dihasilkan oleh Eduardo Camavinga dan Brahim Diaz.


Man of the Match : Kylian Mbappe

Di pertandingan ini, Kylian Mbappe tampil sebagai starter. Namun ia hanya berada di lapangan selama 81 menit saja.


Namun selama di lapangan, ia menjadi terror bagi pertahanan Kairat. Mbappe mengemas hattrick dan harusnya bisa mencetak lebih banyak gol.


Aksi-aksi Mbappe membuka jalan bagi Madrid untuk berpesta gol ke gawang Kairat. Usai laga, laman resmi UEFA memberikannya penghargaan Man of the Match.


Statistik Mbappe

Dari laman Fotmob, Kylian Mbappe tercatat melepas total delapan tembakan di pertandingan Kairat vs Real Madrid ini. Lima di antaranya tepat sasaran.


37 operan ia lepaskan dan 30 di antarnya sampai ke target. Tiga di antaranya bahkan berbuah peluang bagi Madrid.


Empat percobaan dribel dilakukannya dan dua di antaranya sukses. Satu umpan panjang dicatatkan Mbappe dan sampai ke sasaran.


Ia terlibat dalam enam duel perebutan bola. Tiga di antaranya berhasil ia menangkan.

Senin, 29 September 2025

Tak Selalu Sempurna, Ini 5 Penalti Terburuk Lionel Messi


Lionel Messi dikenal sebagai salah satu pemain sepak bola terbaik dalam sejarah, namun meskipun memiliki banyak prestasi gemilang, ia juga pernah melewatkan beberapa penalti yang mengejutkan. Berikut adalah 5 penalti terburuk yang dilakukan oleh Messi dalam kariernya:


1. Argentina vs. Chile (Copa America 2016)

Messi melakukan penalti yang sangat mengecewakan dalam final Copa América 2016 melawan Chile. Meskipun Argentina memiliki kesempatan untuk memenangkan turnamen lewat adu penalti, Messi menendang bola dengan lemah dan tepat ke arah penjaga gawang Claudio Bravo. Ini menjadi momen yang sangat mencolok, terutama karena Messi adalah eksekutor penalti utama bagi Argentina.


2. Barcelona vs. Celta Vigo (La Liga 2015-16)

Pada pertandingan melawan Celta Vigo, Messi mengeksekusi penalti yang sangat buruk. Ia menendang bola dengan lemah dan tidak akurat, yang membuat penjaga gawang Celta Vigo, Sergio Álvarez, dengan mudah menangkapnya. Kejadian ini menambah daftar penalti buruk yang dilakukan oleh Messi sepanjang kariernya.


3. Argentina vs. Venezuela (Kualifikasi Piala Dunia 2018)

Dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018 melawan Venezuela, Messi mendapatkan peluang untuk mencetak gol dari titik penalti. Namun, ia gagal mencetak gol karena bola yang ia tendang mengarah ke tengah dan mudah ditebak oleh kiper lawan. Pada saat itu, Messi tampak kecewa dengan tendangannya yang tidak maksimal.


4. Barcelona vs. Real Madrid (El Clasico, 2017)

Dalam laga El Clasico yang berlangsung pada 2017, Messi mendapat kesempatan untuk mengubah jalannya pertandingan dengan sebuah penalti. Namun, ia gagal mengonversi peluang tersebut menjadi gol, dengan tendangan penalti yang mudah dibaca oleh kiper Real Madrid, Keylor Navas.


5. Barcelona vs. PSG (Liga Champions 2017)

Salah satu penalti buruk Messi juga terjadi dalam pertandingan leg pertama Liga Champions melawan PSG di tahun 2017. Meskipun Barcelona menang 4-0 di Camp Nou, Messi melewatkan sebuah penalti di laga tersebut, dengan tendangan yang dapat dihentikan oleh kiper lawan, Kevin Trapp.


Walaupun Messi memiliki banyak penalti yang sukses, momen-momen ini tetap menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Namun, hal ini tidak mengurangi statusnya sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah ada.

Jurgen Klopp Bakal Comeback ke Dunia Kepelatihan di Arab Saudi?

 


Nama Jurgen Klopp kembali menghiasi pemberitaan sepak bola internasional usai dikaitkan dengan klub Arab Saudi, Al Ittihad. Eks pelatih Liverpool itu kabarnya diproyeksikan sebagai kandidat utama pengganti Laurent Blanc, yang diberhentikan setelah timnya tumbang 0-2 dari Al Nassr.


Keputusan Klopp meninggalkan Liverpool pada musim 2023/24 memang sempat mengejutkan banyak pihak. Ia kala itu mengaku sudah kehabisan tenaga untuk terus menjalani rutinitas intens sebagai pelatih kepala.


Selama hampir sepuluh tahun menukangi The Reds, juru taktik asal Jerman itu berhasil mempersembahkan deretan gelar bergengsi, termasuk Premier League, Liga Champions, hingga Piala Dunia Antarklub.


Masa Depan Klopp Masih Jadi Tanda Tanya

Sejak berpisah dengan Liverpool, Klopp menempuh jalur baru dengan menerima peran sebagai Head of Global Soccer di perusahaan minuman energi Red Bull. Meski begitu, rumor kembalinya ke kursi pelatih tidak pernah benar-benar meredup.


Media lokal Arab Saudi melaporkan bahwa manajemen Al Ittihad sudah menaruh Klopp di urutan teratas daftar buruan mereka.


Selain Klopp, nama-nama lain yang disebut masuk radar klub antara lain Xavi Hernandez, Unai Emery, Sergio Conceicao, hingga Luciano Spalletti. Namun, Klopp dinilai punya reputasi yang lebih menjanjikan dibanding para pesaingnya.


Klopp Tetap Membantah Isu Comeback

Spekulasi soal masa depan Klopp sejatinya bukan hal baru. Sebelumnya ia pernah dihubungkan dengan Real Madrid, timnas Brasil, hingga AS Roma. Akan tetapi, agen Klopp, Marc Kosicke, berkali-kali menegaskan bahwa kliennya tidak berencana kembali melatih dalam waktu dekat.


“Jurgen merasa nyaman dengan pekerjaannya di Red Bull dan sama sekali belum berpikir untuk kembali ke pinggir lapangan,” kata Kosicke pada April lalu.


Kini, setelah kursi pelatih Al Ittihad kosong, isu kepindahan Klopp pun kembali bergulir. Publik menunggu apakah pria 58 tahun itu tetap bertahan di jalur manajemen sepak bola atau tergoda untuk comeback ke dunia kepelatihan.

Barcelona Menang Lawan Sociedad, Tapi Mainnya Bikin Emosi Jules Kounde


Barcelona melanjutkan tren positif mereka di awal musim La Liga 2025/2026. Menjamu Real Sociedad di Estadi Olimpic Lluis Companys, Minggu (28/9/2025), Blaugrana meraih kemenangan tipis 2-1.


Meski menang, jalan Barcelona untuk meraih tiga poin sama sekali tidak mudah. Sociedad lebih dulu unggul lewat gol Alvaro Odriozola, sebelum Jules Kounde dan Robert Lewandowski membalikkan keadaan.


Tambahan tiga poin membuat Barcelona merebut posisi puncak klasemen dari Real Madrid. Hasil ini juga menjaga rekor tak terkalahkan mereka setelah tujuh laga berjalan.


Namun, kemenangan tersebut tidak membuat semua pemain Barcelona puas. Jules Kounde, pencetak gol pertama, justru melontarkan kritik tajam terhadap performa tim.


Jules Kounde Emosi Lihat Permainan Barcelona

Kounde menegaskan bahwa Barcelona tampil tidak cukup agresif menghadapi Sociedad. Bek timnas Prancis itu menyoroti lemahnya pertahanan dan organisasi permainan Blaugrana.

Menurutnya, meski Barcelona akhirnya menang, ada banyak hal yang harus dibenahi jika ingin terus bersaing di papan atas. Intensitas yang rendah jadi masalah utama yang ia tekankan.

“Kami kurang intensitas dalam penampilan kami, pertahanan kami kurang baik, dan kami tidak menutup umpan di dalam, yang membuat kami kesulitan mencetak gol,” ketus Kounde, dikutip dari Marca.



Tak Puas dengan Akhir Pertandingan

Selain intensitas yang lemah, Kounde juga menyoroti bagaimana Barcelona tampil di sekitar setengah jam terakhir. Ia mengaku kecewa dengan cara tim melepas kendali permainan saat unggul.

Menurutnya, Barcelona terlalu pasif sehingga memberi kesempatan Sociedad untuk menekan. Hal itu membuat kemenangan yang seharusnya bisa lebih tenang justru berakhir tegang.

“Saya tidak suka 25 menit terakhir pertandingan. Kami terlalu kesulitan dan tidak menguasai bola. 70 menit sebelumnya cukup bagus; kami memiliki peluang untuk mencetak lebih dari dua gol. Saya tidak suka akhir pertandingan,” tegasnya.

Liverpool Punya Calon Superstar Baru yang Mirip Kylian Mbappe, Siapa tuh?


Kabar gembira datang dari markas Liverpool setelah Rio Ngumoha resmi meneken kontrak profesional pertamanya. Kontrak berdurasi tiga tahun itu akan mengikat sang pemain muda hingga 2028, sesuai regulasi untuk pemain di bawah usia 18 tahun.


Pengumuman ini disambut positif oleh para suporter The Reds. Mereka percaya Ngumoha bisa menjadi salah satu wajah baru Liverpool di masa depan.


Performa impresifnya di pramusim dan kontribusi penting sebagai pemain pengganti semakin memperkuat keyakinan tersebut. Terutama setelah ia mencetak gol kemenangan melawan Newcastle United pada Agustus lalu.


Tak hanya fans, legenda klub Steve McManaman pun memberikan apresiasi tinggi. Ia percaya Ngumoha memiliki kualitas berbeda yang bisa membawanya ke level elite dunia.


Ngumoha Dinilai Unik di Lini Sayap Liverpool

Menurut McManaman, Ngumoha punya gaya bermain yang tidak sama dengan winger Liverpool lain saat ini. Hal ini membuatnya menonjol sejak bergabung dengan tim utama.


Sang legenda mengaku terkesan dengan cara Ngumoha menggiring bola dan membuat pergerakan yang tidak mudah ditebak lawan. Karakteristik itu disebut sangat jarang dimiliki pemain seusianya..


Perbandingan dengan winger Liverpool lain pun sulit dilakukan karena perbedaan mencolok dalam gaya bermain. McManaman bahkan menyebut nama besar dari era lama sebagai pembanding.


"Ia tidak mengingatkan saya pada siapa pun di Liverpool, dan saya akan kembali ke John Barnes dan pemain sayap seperti itu,” ujar McManaman kepada Sports Mole.


Disebut Punya Aura Kylian Mbappe


Lebih jauh, McManaman menilai Rio Ngumoha bisa berkembang menjadi sosok yang setara dengan Kylian Mbappe. Ia melihat kesamaan antara keduanya di usia muda.

Mbappe sudah bersinar sejak remaja di AS Monaco, dan kini menjadi salah satu pemain terbaik dunia. Menurut McManaman, Ngumoha memiliki fondasi permainan yang mirip di awal karier.

Jika mampu menjaga konsistensi dan berkembang lebih matang, Liverpool disebut bisa melahirkan bintang besar baru. Keyakinan itu disampaikan McManaman dengan penuh optimisme.

"Saya telah bekerja dengannya begitu dekat, saya tahu bagaimana ia menggiring bola dan saya tahu pergerakannya. Ia tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Mungkin Kylian di usia muda, dan jika ia ternyata seperti Kylian Mbappe, maka Liverpool punya seorang superstar di tangan mereka," cetus McManaman.

Minggu, 28 September 2025

Korea Open 2025 Jonathan Juara, Ganda Putra Gagal

 


Korea Open 2025 hari kelima wakil Indonesia  tersingkir tiga wakil. Hanya dua wakil yang bisa lanjut ke final.


Kejuaraan bulutangkis ini diselenggarakan di Gimnasium Suwon, Suwon, Korea Selatan dan termasuk agenda BWF Super 500. Serta memperebutkan hadiah total sebesar  USD 475.000.


Total Indonesia berhasil menempatkan 2 wakil di babak final. Satu tunggal dan satu ganda putra.


Hasil hari keenam adalah :

Tunggal putra Jonathan Christie menyisihkan tunggal putra Denmark, Antonsen 21-10,15-21,21-17.


Ini adalah gelar pertama bagi Jonathan paska keluar dari Pelatnas PBSI.


Ganda putra Fajar / Fikri kalah atas pasangan  Korea, Kim Won Hoo/ Seo Seung Jae 16-21,21-23.


Ini adalah kekalahan kedua bagi Fajar / Fikri, setelah menang di China Open 2025 dan kalah di China Masters 2025.


Hasil final lainnya adalah :

Juara tunggal putri diraih Akane Yamaguchi  (Jepang) setelah mengalahkan  An Se Young (Korea) 18-21,13-21.


Juara ganda putri diraih Kim Hye Jeong/ Kong Hee Yong (Korea) setelah menumbangkan  Rin / Kie (Jepang) 21-19,21-12.


Juara ganda campuran diraih Feng Yan Ze/ Huang Dong Ping (China) dalam final sesama China, setelah menundukkan Jiang Zen Bang / Wei Ya Xin 25-23,21-11.


Distribusi juara adalah China (1), Indonesia (1), Jepang (1), dan Korea (2). Korea berhasil menjadi juara umum di kandang sendiri.


Sampai jumpa pada event bulutangkis mendatang.


MU Tim yang Tidak Tahu Siapa Mereka

 


Manchester United itu ibarat orang yang tiap pagi bangun tidur, berdiri di depan kaca, lalu nanya ke dirinya sendiri: "Aku ini siapa, ya?" Bedanya, kalau orang biasa mungkin masih bisa jawab: pegawai, pedagang, guru, atau minimal bapaknya siapa. Nah, United? Mereka bingung. Mau jadi tim besar? Ya namanya besar. Mau jadi tim juara? Sejarahnya penuh trofi. Tapi di lapangan sekarang, wajahnya lebih mirip tim seminar motivasi: banyak kata-kata inspiratif, tapi ketika ditanya "mana hasilnya?", semua mendadak hilang sinyal.


Kekalahan 1-3 dari Brentford kemarin itu bukan sekadar kalah. Itu seperti undangan resmi ke seluruh dunia untuk menonton drama: "Inilah United, tim yang lupa cara menjadi dirinya sendiri."


Saat dulu masuk Ruben Amorim, pelatih muda, energik, gaya 3-4-3, katanya penuh pressing, progresif, berani kasih kesempatan pemain muda. Di Sporting Lisbon, dia ini wangi---mirip parfum baru yang bikin semua orang melirik. Lalu ketika dibawa ke Old Trafford, harapannya bisa menyegarkan ruangan yang pengap sejak ditinggal Ferguson.


Eh ternyata, begitu semprotan pertama, baunya cepat hilang. Identitas yang katanya mau dibawa? Entah tersangkut di Bandara Heathrow atau nyasar ke gudang Adidas. Amorim lebih sering terlihat kebingungan: mau main ball possession takut kebobolan, mau pressing tinggi takut kecapekan, mau main reaktif takut dicap "tim kecil". Akhirnya? United jadi tim yang mainnya setengah-setengah, kayak orang diet tapi tiap malam masih ngemil gorengan.


Masalahnya bukan cuma Amorim. Sejak Ferguson pamit tahun 2013, United itu kayak mantan yang susah move on. Semua pacar barunya---Moyes, Van Gaal, Mourinho, Solskjaer, Ten Hag---diperlakukan bukan sebagai pelatih, tapi sebagai "terapi pengganti". Padahal, ya mana bisa ada pengganti Ferguson?


United hidup dari nostalgia. Mereka sering bicara soal "DNA klub", tapi DNA itu kini lebih mirip hasil fotokopi lusuh di ruang arsip, bukan darah yang mengalir segar di lapangan. Jika dibadningkan dengan tetengga mereka, City main dengan kejelasan visi Guardiola: mau ngapain, bagaimana caranya, sampai detail jarak antar pemain pun mereka hafal. United? Mereka sibuk bertanya, "Kita ini sebenarnya tim apa, ya?"


Mereka seperti kehilangan identitas. Ini yang paling fatal. Klub sebesar United mestinya punya identitas yang tak tergoyahkan. Mau ganti pelatih sepuluh kali, gaya main tetap bisa dikenali. Barcelona dengan tiki-taka, Liverpool dengan gegenpressing, City dengan posisional play. United? Paling banter dikenal dengan identitas "klub yang suka menghabiskan duit buat transfer mahal, tapi hasilnya seperti membeli blender mahal hanya untuk bikin es teh manis."


Kalau ditanya: apakah mereka klub yang membangun dari akademi? Bisa iya, tapi akademinya sering diabaikan. Apakah mereka tim pressing tinggi? Tidak jelas. Tim pragmatis? Setengah hati. Jadinya: Frankenstein FC, potongan-potongan ide yang dijahit jadi satu, tapi tidak ada roh yang hidup di dalamnya.


Solusinya bukan lagi sekadar gonta-ganti pelatih. United perlu keberanian untuk membangun identitas sepak bola yang konsisten. Itu artinya ada visi panjang, ada kesabaran, ada kesadaran bahwa trofi tidak bisa dipetik dengan cara instan seperti mie seduh. Tapi masalahnya: pemilik klub, fans, dan manajemen seringkali tidak sabar. Mereka ingin hasil cepat, seolah sepak bola bisa diproses dengan tombol "skip intro".


Padahal, City bisa dominan karena mereka sabar menunggu Guardiola menanam filosofi. Liverpool bangkit karena Klopp diberi waktu. United? Baru juga setahun setengah, pelatihnya sudah dipertanyakan.


Penutup : Sebuah Ironi

Kekalahan yang kembali terulang kemarin hanyalah cermin. Kadang mereka main seolah-olah masih zaman Ferguson, penuh wibawa dan disiplin. Besoknya berubah jadi tim eksperimental, entah mau pressing tinggi, entah mau parkir bus, atau sekadar main tebak-tebakan "siapa yang salah umpan duluan." Identitas? Sudah lama hilang, mungkin tercecer di ruang ganti Old Trafford.


Mereka seperti orang yang masuk ke pesta, pakai jas, tapi lupa bawa undangan. Besar namanya, megah sejarahnya, tapi ketika diajak bicara soal identitas sepak bola hari ini, jawabannya hanya berupa tatapan kosong. Dunia pun mengangguk-angguk: "Mu kalah? Oh, biasa." Ironisnya, MU hari ini lebih mirip sinetron dengan judul panjang: Tim Besar dengan Stadion Megah, Fans Sejagad, tapi di Lapangan Mainnya kayak Klub Medioker.


Mungkin, sebelum bermimpi juara liga, United harus belajar dulu hal sederhana: mengenali dirinya sendiri. Karena kalau sebuah tim sebesar itu saja bingung dengan jati dirinya, bagaimana mungkin orang lain bisa percaya pada mereka? Klub yang lebih sibuk dengan nostalgia dan belanja pemain, ketimbang membangun jiwa permainan. Sebuah tim besar yang tersesat di jalan pulang.


Kekalahan semalam adalah cermin kecil dari kebingungan besar itu. Pemain bintang seperti lupa peran, strategi tampak seperti draft kasar, dan fans harus rela menonton dengan perasaan campur aduk: marah, kecewa, tapi tetap tidak bisa berhenti mencintai. MU hari ini seperti seseorang yang punya nama besar, tapi tidak tahu lagi bagaimana cara hidup dengan nama itu.


MU hari ini bukan lagi Red Devils. Mereka lebih cocok disebut Red Drama: tiap minggu bikin episode baru, tapi ending-nya selalu sama---kalah. Jadi, apakah mereka masih tim besar? Di atas kertas? iya. Di hati fans? tentu. Tapi di lapangan? gak jelas.  Klub kuat? Hmm... hanya kalau main FIFA di PlayStation.

Sabtu, 27 September 2025

Korea Open 2025 : Indonesia Tempatkan Dua Finalis


Korea Open 2025 hari keempat wakil Indonesia luar biasa, masuk quarter final 5 wakil, semuanya masuk semi final.


Kejuaraan bulutangkis ini diselenggarakan di Gimnasium Suwon, Suwon, Korea Selatan dan termasuk agenda BWF Super 500. Serta memperebutkan hadiah total sebesar  USD 475.000.


Total Indonesia berhasil menempatkan 5 wakil di babak semi final. Dua tunggal putra yang  menciptakan semi final sesama Indonesia, satu tunggal putri , satu ganda putra dan satu ganda campuran.


Hasil hari kelima adalah :


Tunggal putra Jonathan Christie menyisihkan tunggal putra sesama Indonesia, Alwi Farhan 18-21,21-14,21-15.


Lawan di final adalah tunggal putra Denmark, Antonsen.


Tunggal putri Putri Kusuma Wardani ditaklukkan tunggal putri Jepang, Akane Yamaguchi 9-21,14-21.


Ganda putra Fajar / Fikri menang atas pasangan  Chinese Taipei, Yang / Lee 21-19,21-16.


Lawan di final adalah pasangan Korea, Kim Won Hoo/ Seo Seung Jae. Ini adalah partai ulangan semi final China Masters2025, semoga pasangan Indonesia dapat melakukan revans.


Ganda campuran Amri / Nita dihadang pasangan China, Feng Yan Ze / Huang Dong Ping 20-22,12-21.


Kekalahan ini adalah kekalahan ketiga dari Amri / Nita dari pasangan Feng / Huang.


Dengan demikian squad Indonesia total menempatkan dua wakil di babak final.


Pemain yang berhasil masuk final:


Tunggal putra: Jonathan Christie (Indonesia) vs Antonsen (Denmark).


Tunggal putri: An Se Young (Korea) vs Akane Yamaguchi (Jepang).


Ganda putra : Fajar / Fikri (Indonesia) vs Kim Won Hoo/ Seo Seung Jae (Korea).


Ganda putri: Kim Hye Jeong/ Kong Hee Yong (Korea) vs Rin / Kie (Jepang).


Ganda campuran: Feng Yan Ze/Huang Dong Ping (China) vs Jiang Zen Bang / Wei Ya Xin (China).


China sudah memastikan satu gelar juara, karena berhasil menciptakan final sesama China pada ganda campuran.


Tuan rumah Korea berhasil.menempatkan tiga finalis, pada tunggal putri, ganda putri dan ganda putra.


Reaksi Berkelas Xabi Alonso Usai Real Madrid Dipermalukan Atletico : Ini Salah Kami, Bukan Wasit

 


Pelatih Xabi Alonso memberikan reaksi yang jujur dan tanpa tedeng aling-aling usai Real Madrid dibantai oleh rival sekota, Atletico Madrid. Ia sama sekali tidak mencari kambing hitam dan mengakui timnya pantas menelan kekalahan.


Dalam laga derby yang digelar di Riyadh Air Metropolitano, Sabtu (28/9/2025), Los Blancos takluk dengan skor telak 2-5. Hasil ini sekaligus menjadi kekalahan perdana mereka di musim 2025/2026.


Rekor 100 persen kemenangan Madrid pun harus hancur dengan cara yang sangat menyakitkan. Sempat membalikkan keadaan, mereka justru kolaps dan membiarkan Atletico mencetak empat gol balasan.


Menurut Alonso, kekalahan ini murni karena performa timnya yang jauh di bawah standar. Ia menunjuk kurangnya intensitas dan fokus sebagai biang kerok utama dari hasil memalukan ini.


Pengakuan Tanpa Basa-basi

Xabi Alonso tidak berusaha menutupi fakta bahwa timnya tampil sangat buruk. Ia secara terbuka mengakui bahwa Real Madrid tidak bermain baik secara kolektif maupun individu.

Menurutnya, kekalahan ini adalah sebuah kenyataan pahit dalam proses pembangunan tim. Ia menegaskan bahwa hasil ini akan menjadi pelajaran berharga untuk masa depan.

"Itu adalah pertandingan yang buruk. Kami tidak memulai dengan baik, kami tidak bermain baik secara kolektif, maupun dari segi kualitas permainan kami dengan dan tanpa bola," ujarnya.

"Kami berada dalam fase pembangunan kembali, hari ini adalah kekalahan pertama kami dan ini akan terus berlanjut," kata Alonso.


Bela Keputusan Mainkan Bellingham

Salah satu keputusan Alonso yang menjadi sorotan adalah memainkan Jude Bellingham sebagai starter. Padahal, sang gelandang baru saja pulih dari cedera dan minim menit bermain musim ini.

Meskipun keputusan itu terbukti tidak efektif, Alonso tetap memberikan pembelaan. Ia menegaskan bahwa Bellingham adalah pemain kunci yang tenaganya sangat dibutuhkan oleh tim.

"Kami membutuhkan semua orang dan Jude adalah bagian kunci dari itu. Dia berlatih dengan baik," bela Alonso.

"Kami akan menganalisis keputusan-keputusan itu setelahnya, tetapi kami akan belajar darinya. Ini menyakitkan, menyakitkan bagi para penggemar, tetapi ini adalah proses membangun," lanjutnya.


Kurang Intensitas dan Fokus Jadi Biang Kerok

Saat ditanya mengenai kekhawatiran terbesarnya, Alonso menjawab dengan sangat lugas. Ia merasa timnya tidak menunjukkan level permainan yang semestinya untuk sebuah laga derby.

Ia secara spesifik menunjuk kurangnya intensitas dan fokus sebagai dua masalah utama. Menurutnya, Madrid tidak cukup kompetitif untuk bisa mengimbangi permainan Atletico.

"Kami kurang intensitas dan fokus. Bagaimana cara melawan dengan lebih baik. Kami punya ide, tetapi kami perlu mengevaluasinya lebih lanjut," ungkapnya.

"Kami tidak cukup bersaing. Tidak pada level yang dibutuhkan untuk pertandingan-pertandingan ini, melawan lawan-lawan ini. Dan kami harus meningkatkannya," tegas Alonso.



Pelajaran Berharga dari Kekalahan

Alonso berulang kali menekankan bahwa kekalahan menyakitkan ini harus dilihat sebagai bagian dari sebuah proses. Ia tidak ingin membandingkannya dengan kekalahan-kekalahan telak Madrid di masa lalu.

Baginya, hal yang paling penting saat ini adalah bagaimana tim akan memberikan reaksi positif. Rasa sakit akibat kekalahan ini harus dijadikan sebagai pelecut semangat untuk bangkit.

"Ini yang harus kami hadapi, saya tidak mau membandingkan, tapi ini yang pertama kami alami musim ini, yang menyakitkan dan yang membuat kami merasa sangat bertanggung jawab," jelasnya.

"Sebagai bagian dari kemajuan, proses pembangunan... ada hari-hari yang sulit. Bagaimana kami bereaksi adalah yang terpenting. Kami masih dalam fase membangun," tutup Alonso.

Hasil Chelsea vs Brighton : Diwarnai Kartu Merah Untuk Chalobah, The Blues Kena Comeback The Seagulls


Chelsea dipaksa menelan kekalahan dengan skor 1-3 saat menjamu Brighton di laga pekan keenam Liga Inggris 2025/2026 di Stamford Bridge, Sabtu (27/09/2025) malam WIB.


Chelsea sebenarnya sempat berada di atas angin. Akan tetapi kartu merah yang diterima oleh Trevoh Chalobah mengubah arah jalannya pertandingan.


Gol Chelsea dicetak Enzo Fernandez. Sementara itu gol-gol Brighton dipersembahkan Danny Welbeck (brace) dan Maxim de Cuyper.


Hasil ini membuat Chelsea turun ke peringkat tujuh klasemen sementara Premier League dengan raihan delapan poin dari enam laga. Sedangkan Brighton kini juga mengemas poin yang sama dan naik ke peringkat 10.


Babak Pertama

Chelsea mengawali pertandingan dengan tempo tinggi dan langsung menguasai bola. Enzo Fernandez melepaskan tembakan bebas yang ditepis dengan sigap oleh Verbruggen pada menit ke-3. Tekanan ini membuat Brighton bertahan cukup dalam.


Marc Cucurella hampir membuka keunggulan lewat tendangan keras dari luar kotak penalti. Bola melesat deras namun hanya melebar tipis di sisi gawang. Serangan Chelsea terus mengalir dari berbagai lini.


Reece James tak mau kalah dengan menguji kiper Brighton melalui eksekusi tendangan bebas. Verbruggen kembali menunjukkan refleks cepatnya untuk menjaga gawang tetap aman. Keunggulan Chelsea seolah tinggal menunggu waktu.


Estevao menunjukkan kualitas individu dengan menggiring bola melewati lawannya, meski tembakannya berhasil diblok Dunk. Sementara itu, kombinasi antara Fernandez dan Pedro menciptakan peluang matang, tetapi Van Hecke dengan heroik menghalangi laju bola ke gawang.


Pada menit ke-24, publik Stamford Bridge akhirnya bersorak. Fernandez sukses mencetak gol lewat sundulan setelah menerima bola dari umpan silang James. Chelsea menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0, sementara Brighton tak banyak memberikan perlawanan berarti.


Babak Kedua

Petaka menghampiri Chelsea di awal babak kedua. Chalobah melanggar Gomez yang berlari bebas menuju gawang. VAR meninjau insiden tersebut, dan wasit mengeluarkan kartu merah pada menit ke-53. Chelsea terpaksa bermain dengan 10 orang untuk laga kedua berturut-turut di Premier League.


Situasi itu memberi angin segar bagi Brighton. Minteh hampir mencetak gol setelah memanfaatkan kesalahan Acheampong, tetapi James hadir tepat waktu untuk memblok. Tekanan tamu semakin berat dirasakan tuan rumah.


Menit ke-77, Brighton berhasil menyamakan kedudukan. Minteh mengirim umpan silang ke arah Welbeck, yang dengan tenang menanduk bola ke gawang. Skor imbang 1-1 membuat laga kembali terbuka.


Tensi makin meninggi saat Brighton meminta penalti usai Minteh bertabrakan dengan Gusto. VAR menolak klaim itu, dan sempat terjadi kericuhan kecil antar pemain. Namun, permainan Chelsea makin goyah menghadapi gempuran lawan.


Gol kedua Brighton datang pada menit ke-90+2. De Cuyper mencetak gol lewat sundulan setelah menerima bola dari Wieffer. Hanya berselang beberapa menit, Welbeck kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-90+10 untuk mengunci kemenangan 3-1. Chelsea harus menyerah di kandang sendiri setelah sempat memimpin lebih dulu.


Susunan Pemain

Chelsea (4-2-3-1) : Robert Sanchez; Marc Cucurella, Jorrel Hato, Trevoh Chalobah, Reece James; Moises Caicedo, Andrey Santos; Pedro Neto, Enzo Fernandez, Estevao; Joao Pedro.

Pelatih : Enzo Maresca


Brighton (4-2-3-1) : Bart Verbruggen; Ferdi Kadioglu, Lewis Dunk, Jan Paul van Hecke, Joel Veltman; Yasin Ayari, Carlos Baleba; Kaoru Mitoma, Diego Gomez, Yankuba Minteh; Georginio Rutter.

Pelatih : Fabian Hurzeler

Hasil Atletico Madrid vs Real Madrid : Derbi dengan 7 Gol, Los Blancos Telan Kekalahan Pertama di La Liga




Atletico Madrid menjamu Real Madrid pada laga pekan ke-6 La Liga 2025/2026, Sabtu (27/9) malam WIB. Pada duel yang digelar di Stadion Wanda Metrpolitano, Atletico Madrid memberikan kekalahan pertama bagi Real Madrid dengan skor 5-2.


Babak pertama laga panas antara Atletico Madrid dan Real Madrid menghadirkan drama empat gol yang membuat skor imbang 2-2 saat turun minum.


Atletico tampil agresif sejak awal dan memetik hasilnya pada menit ke-14, ketika Le Normand sukses membelokkan crossing silang hasil situasi bola mati melewati Thibaut Courtois.


Real Madrid merespon. Pasukan Xabi Alonso mampu berbalik unggul lewat efektivitas. Dua peluang pertama mereka langsung berbuah gol, masing-masing melalui Kylian Mbappe dan Arda Guler.


Atletico menyamakan skor pada periode tambahan waktu babak pertama. Koke mengirimkan umpan silang akurat yang berhasil diselesaikan Alexander Sorloth untuk membuat skor kembali imbang 2-2. Laga babak pertama sangat menarik.


Babak Kedua :  Atletico Madrid Hancurkan Real Madrid

Babak kedua tetap berjalan seru, bedanya adalah Atletico Madrid memegang kendali dengan cukup bagus. Mereka mendapat penalti pada menit ke-51. Julian Alvarez menjalankan tugas dengan sempurna. Skor jadi 3-2.


Alvarez dapat peluang mencetak gol kedua pada menit ke-58, akan tetapi masih tipis dari gawang. Pemain asal Argentina baru benar-benar mencetak gol keduanya pada menit ke-62, dari tendangan bebas luar biasa. Skor menjadi 4-2.


Real Madrid coba merespon. Rodrygo masuk pada menit ke-70. Namun, tidak banyak opsi yang ditawarkan pemain asal Brasil tersebut. Justru Atletico yang menambah gol lewat aksi Antoine Griezmann pada menit 90+3. Atletico menang dengan skor 5-2.


Kemenangan ini membuat Atletico Madrid kini berada di peringkat ke-4 klasemen dengan 12 poin. Real Madrid tetap berada di puncak klasemen dengan 18 poin, akan tetapi posisi mereka terancam oleh Barcelona yang ada di bawahnya dengan 16 poin.


Daftar Susunan Pemain

Atletico Madrid (4-4-2) : Jan Oblak; David Hancko, Clement Lenglet, Robin Le Normand, Marcos Llorente; Nico Gonzalez, Koke, Pablo Barrios, Giuliano Simeone; Julian Alvarez, Alexander Sorloth.

Pelatih : Diego Simeone.


Real Madrid (4-2-3-1) : Thibaut Courtois: Alvaro Carreras, Dean Huijsen, Eder Militao, Dani Carvajal; Aurelien Tchouameni, Federico Valverde; Vinicius Junior, Jude Bellingham, Arda Guler; Kylian Mbappe.

Pelatih : Xabi Alonso.


Jumat, 26 September 2025

Prediksi Atletico Madrid vs Real Madrid 27 September 2025


Atletico Madrid dan Real Madrid akan berjumpa pada pekan ke-7 La Liga 2025/2026. Pertandingan Liga Spanyol antara Atletico Madrid vs Real Madrid ini dimainkan di Riyadh Air Metropolitano. Pertandingannya akan kick-off Sabtu, 27 September 2025, jam 21.15 WIB, live streaming di Vidio.


Derby Madrid akan tersaji di Metropolitano akhir pekan ini. Atletico Madrid akan menjamu Real Madrid dalam laga yang selalu penuh gengsi sekaligus mempertaruhkan harga diri. Bagi Diego Simeone dan anak-anak asuhnya, pertandingan ini bisa menjadi momentum penting setelah awal musim yang belum sepenuhnya stabil.


Atletico masih berusaha menemukan konsistensi. Meski demikian, mereka punya modal kemenangan dramatis 3-2 atas Rayo Vallecano. Dalam laga itu, Los Rojiblancos sempat tertinggal hingga menit-menit akhir sebelum membalikkan keadaan untuk meraih kemenangan kedua di La Liga musim ini.


Kemenangan tersebut sedikit meredakan tekanan terhadap Simeone. Pelatih asal Argentina tersebut sebelumnya sempat menuai kritik karena performa tim yang naik turun. Jika kalah dari Rayo, situasi mungkin akan semakin panas. Namun, hasil positif itu memberi Atletico napas tambahan jelang duel kontra rival sekota.


Di lain pihak, Real Madrid tengah berada dalam performa meyakinkan. Los Blancos melanjutkan catatan sempurna di semua ajang setelah menundukkan Levante 4-1 pada tengah pekan. Penampilan kolektif yang solid membuat mereka semakin percaya diri menghadapi laga di Metropolitano.


Kylian Mbappe sejauh ini menjadi pemain paling menonjol dalam skuad Xabi Alonso. Striker asal Prancis itu sudah mengoleksi tujuh gol di liga dan menjadi motor serangan utama. Walau masih ada perdebatan soal peran Rodrygo dan Vinicius Junior, keberadaan Mbappe dengan ketajamannya memberi warna baru dalam permainan Madrid.


Atletico dipastikan kehilangan Alexander Sorloth yang absen karena skorsing. Hilangnya striker Norwegia tersebut jelas mengurangi variasi serangan mereka, terutama dalam duel fisik melawan pertahanan Madrid.


Di kubu Real Madrid, masalah muncul di sektor pertahanan. Antonio Rudiger dan Trent Alexander-Arnold masih cedera, sementara kondisi Ferland Mendy belum sepenuhnya fit. Alonso dituntut cermat mencari solusi agar lini belakang tetap kokoh menghadapi tekanan Atletico.


Prediksi Starting XI Atletico Madrid vs Real Madrid

Atletico Madrid (3-5-2) : Oblak; Marcos Llorente, Le Normand, Hancko; Nahuel Molina, Pablo Barrios, Koke, Gallagher, Javi Galan; Griezmann, Julian Alvarez

Pelatih : Diego Simeone

Informasi tim : Sorloth (suspended), Jose Maria Gimenez (cedera), Johnny (cedera), Almada (cedera)



Real Madrid (4-2-3-1) : Courtois; Dani Carvajal, Eder Militao, Dean Huijsen, Carreras; Fede Valverde, Tchouameni; Mastantuono, Guler, Vinicius Junior; Mbappe

Pelatih : Xabi Alonso

Informasi tim : Fran (cedera), Rudiger (cedera), Alexander-Arnold (cedera), Mendy (meragukan)





Atletico kemungkinan akan mencoba tampil lebih proaktif musim ini, tetapi Simeone biasanya kembali ke pendekatan klasik saat menghadapi lawan besar, yakni bertahan rapat sambil mengandalkan serangan balik. Strategi semacam itu bisa menjadi senjata utama menghadapi Madrid yang diperkirakan lebih banyak menguasai permainan.

Meski begitu, efektivitas lini depan Madrid, terutama dengan ketajaman Mbappe, membuat mereka tetap lebih dijagokan. Atletico bisa saja mengamankan poin jika disiplin sepanjang pertandingan, tetapi skenario yang lebih realistis menunjukkan Los Blancos berpeluang besar meraih kemenangan tipis di markas sang rival sekota.

Prediksi skor akhir : Atletico Madrid 1-2 Real Madrid

Jejak Pelatih Di Balik Sang Legenda Sepak Bola Christiano Ronaldo

 


Sepanjang perjalanan sejarah sepak bola, hanya segelintir pemain yang mampu mengubah wajah sebuah tim nasional secara menyeluruh. Bagi Portugal, sosok itu jelas adalah Cristiano Ronaldo. Sejak melakoni debutnya pada Agustus 2003, perkembangan timnas Portugal tak bisa dilepaskan dari evolusi karier sang megabintang. Namun, di balik kejayaan individu dan kolektif tersebut, ada deretan pelatih yang memainkan peran vital: mengasah potensinya, membangun tim di sekelilingnya, serta mengantarkan Portugal menuju puncak kejayaan sepak bola dunia.


Awal Mula Fenomena: Era Luiz Felipe Scolari (2003--2008)


Ronaldo Memasuki Panggung Besar

Debut Cristiano Ronaldo di timnas senior bertepatan dengan masa kepelatihan Luiz Felipe Scolari, arsitek asal Brasil yang sebelumnya membawa negaranya meraih Piala Dunia 2002. Scolari menangani "Generasi Emas" Portugal yang diperkuat bintang-bintang besar seperti Lus Figo, Rui Costa, hingga Deco, sembari mulai memberi ruang bagi Ronaldo muda untuk berkembang.


Mencari Arah Baru: Carlos Queiroz & Paulo Bento (2008--2014)


Carlos Queiroz (2008--2010)

Pasca-kepergian Scolari, tongkat estafet beralih ke Carlos Queiroz, mantan asisten Sir Alex Ferguson. Ia mencoba menghadirkan organisasi dan kedisiplinan lebih ketat. Namun, hasilnya tak sepadan dengan harapa n:


- Piala Dunia 2010 : Portugal gugur di 16 besar oleh Spanyol.

- Masalah utama : celah taktis yang ditinggalkan Scolari sulit ditutup.


Paulo Bento (2010--2014)

Di bawah Paulo Bento, Portugal semakin mengandalkan kejeniusan individu Ronaldo. Meski mampu menembus semifinal Euro 2012, permainan tim kerap bergantung pada momen-momen magis sang kapten. Kekalahan adu penalti melawan Spanyol menegaskan bahwa pendekatan lebih kolektif mutlak dibutuhkan.


Masa Keemasan : Fernando Santos dan Piala Eropa (2014--2022)


Pendekatan Realistis

Penunjukan Fernando Santos menjadi titik balik sejarah Portugal. Santos dikenal pragmatis, membangun pertahanan yang kokoh serta disiplin. Dengan fondasi itu, Ronaldo dibebaskan dari beban bertahan dan difungsikan sebagai finisher murni. Pendekatan inilah yang akhirnya mengantar Portugal meraih trofi Eropa pertamanya di Euro 2016, lalu disusul dengan gelar UEFA Nations League 2019.


Babak Baru : Roberto Martnez (2023--Sekarang)


Filosofi Menyerang

Masuknya Roberto Martnez pada awal 2023 menghadirkan angin segar. Berbeda dengan Santos, ia menekankan permainan ofensif berbasis penguasaan bola, sekaligus mengoptimalkan generasi muda seperti Bruno Fernandes, Rafael Leo, dan Joo Flix. Ronaldo pun tetap diberi peran penting dalam sistem baru yang lebih cair dan agresif.


Pencapaian Terkini :

- Kualifikasi Euro 2024 : Portugal menyapu bersih seluruh laga.

- UEFA Nations League 2025 : Juara usai menundukkan Spanyol di final.


Kesimpulan

Perjalanan timnas Portugal di era Ronaldo adalah kisah tentang adaptasi, kepemimpinan, dan visi taktis. Dari Scolari yang berani memberi kesempatan, Bento yang bertumpu pada magis individunya, Santos yang mengubahnya jadi juara, hingga Martnez yang membuka era baru---semua pelatih agen bola online menorehkan jejak unik. Warisan Cristiano Ronaldo tak hanya berupa gol dan trofi, melainkan juga transformasi total yang menjadikan Portugal salah satu kekuatan abadi di sepak bola dunia.

Indonesia Pastikan Satu Finalis Tunggal Putra Korea Open 2025


Korea Open 2025 hari ketiga telah membuat empat wakil Indonesia tersisih lagi. Peluang di ganda putri punah.


Kejuaraan bulutangkis ini diselenggarakan di Gimnasium Suwon, Suwon, Korea Selatan dan termasuk agenda BWF Super 500. Serta memperebutkan hadiah total sebesar  USD 475.000.


Total Indonesia berhasil menempatkan 5 wakil di babak quarter final. Dua tunggal putra yang berusaha menciptakan semi final sesama Indonesia, satu tunggal putri , satu ganda putra dan satu ganda campuran.


Hasil hari keempat adalah :

Tunggal putra Jonathan Christie menyisihkan tunggal putra Jepang, Kenta Nishimoto 21-14,21-8.


Tunggal putra Alwi Farhan menyisihkan tunggal putra China, Weng Hong Yang 4-21, 21-16,21-17.


indonesia memastikan satu tiket final tunggal putra, karena terjadi semi final sesama Indonesia.


Tunggal putri Putri Kusuma Wardani menaklukkan tunggal putri Korea, Kim Gaeun 21-6,21-15.


Lawan di semi final adalah tunggal putri Jepang, Akane Yamaguchi.


Kesempatan bagi Putri KW untuk melakukan revans atas kekalahannya di semi final China Masters 2025.


Ganda putra Fajar / Fikri menang atas pasangan  Korea, Na Sung Seung / Jin Yong 21-13,21-16.


Lawan di semi final adalah pasangan Chinese Taipei atau Korea.


Ganda campuran Amri / Nita menghadang pasangan China, Guo Xin Wa/ Chen Fang Hui 11-21,21-17,21-16.


Di semi final bertemu pasangan Feng Yan Ze / Huang Dong Ping.


Dengan demikian squad Indonesia total menempatkan lima wakil di babak semi final.


Jepang, Korea dan China menempatkan dua wakil pada ganda putri dan ganda campuran.Jepang dan Korea juga seperti Indonesia sudah memastikan satu tiket di babak final.

Kamis, 25 September 2025

Luka Modric Jadi Senjata Rahasia Milan


Setiap bursa transfer selalu menghadirkan kejutan. Namun, musim panas 2025 seolah menjadi panggung bagi dua narasi besar yang mengguncang Serie A: Napoli mendatangkan Kevin De Bruyne dari Manchester City, sementara AC Milan merekrut Luka Modric dari Real Madrid. Dua keputusan strategis ini menyalakan kembali api rivalitas di liga Italia, sekaligus membuka ruang perdebatan: siapa yang akan lebih menentukan arah kompetisi?


Napoli memilih jalan ambisius dengan menggaet gelandang yang masih dianggap sebagai salah satu kreator serangan terbaik di Eropa. De Bruyne adalah simbol energi, visi, dan presisi. Tetapi Milan, alih-alih terjebak dalam perang glamor transfer, mengambil langkah berbeda. Mereka mendatangkan Modric --- veteran Kroasia berusia 40 tahun --- dengan harapan menambah kedalaman taktik dan kestabilan mental.


Bagi sebagian orang, langkah Milan terdengar nekat. Namun, sejarah sepak bola kerap membuktikan bahwa pengalaman bisa menjadi pembeda di tengah kompetisi panjang.


Statistik Awal yang Membungkam Kritik

Kehadiran Modric segera diuji sejak pekan pertama Serie A 2025--2026. Lima pertandingan awal menjadi laboratorium untuk mengukur sejauh mana dirinya masih relevan di level tertinggi.


- Debut kontra Cremonese berakhir dengan kekalahan tipis 1-2, tetapi Modric menorehkan rating 7,6 berkat kontrol tempo dan distribusi bola.

- Saat Milan menang 2-0 atas Lecce, ratingnya melonjak ke 8,1, menandakan pengaruh besar dalam transisi serangan.

- Dalam laga krusial melawan Bologna, ia meraih 8,7 --- menjadi man of the match meski hanya menang tipis 1-0.

- Kemenangan 3-0 atas Udinese kembali memperlihatkan kestabilannya, dengan rating 7,7.


Deretan performa itu bukan sekadar angka. Mereka membuktikan bahwa Modric masih mampu menjaga konsistensi, bahkan dalam liga yang dikenal keras dan penuh tekanan fisik seperti Serie A.


Mengapa Modric Adalah "Jawaban" Milan?


Ada tiga alasan utama mengapa Luka Modric dianggap sebagai jawaban Milan atas transfer besar Napoli:


1. Legitimasi dari Fabio Capello

Legenda Milan, Fabio Capello, secara terbuka menyebut Modric sebagai "jawaban Milan terhadap De Bruyne." Pernyataan ini bukan basa-basi, melainkan refleksi dari keyakinan bahwa Milan mendapatkan lebih dari sekadar pemain --- mereka mendapatkan simbol kepemimpinan di lini tengah.


2. Kecocokan dengan karakter Serie A

Serie A memiliki tempo permainan lebih lambat dibanding Premier League. Situasi ini membuka ruang bagi pemain dengan kecerdasan taktis tinggi seperti Modric untuk mengatur ritme. Sementara De Bruyne harus beradaptasi dengan tempo yang berbeda, Modric justru bermain dalam habitat yang lebih sesuai dengan keahliannya.


3. Efektivitas di atas euforia

Napoli membeli sensasi, Milan membeli substansi. De Bruyne membawa sorotan media, sementara Modric membawa kestabilan. Milan menunjukkan bahwa mereka tidak sedang berlomba dalam popularitas, tetapi dalam efektivitas jangka panjang.


Konteks Lebih Luas : Filosofi Transfer Milan

Transfer Modric tidak bisa dipandang sebagai keputusan jangka pendek semata. Milan sedang membangun identitas baru setelah era Zlatan Ibrahimovi dan Olivier Giroud berakhir. Klub ini tidak lagi sekadar mencari "nama besar" untuk memenuhi ekspektasi publik, melainkan pemain yang benar-benar dibutuhkan untuk menutup celah strategi.


Dalam konteks itu, Modric menjadi katalis. Ia bisa membantu Rafael Leo di lini depan, menghubungkan lini pertahanan dengan serangan, sekaligus menjadi mentor bagi gelandang muda seperti Tijjani Reijnders atau Yunus Musah. Kehadirannya juga memberi Milan sesuatu yang tak dimiliki Napoli: pengalaman mengangkat trofi Liga Champions berulang kali.


Tantangan Nyata di Depan

Tentu, keputusan Milan bukan tanpa risiko. Modric datang di usia yang sudah sangat senior untuk level sepak bola profesional. Intensitas musim yang padat bisa memicu cedera. Selain itu, Napoli tidak tinggal diam --- De Bruyne bukan satu-satunya bintang yang mereka miliki. Ditambah, Inter Milan dan Juventus juga memperkuat skuad, sehingga persaingan Serie A musim ini lebih ketat dari biasanya.


Tetapi justru di titik itulah Milan mengambil taruhan yang cerdas. Mereka tahu bahwa kualitas individu bisa menjadi pembeda, tetapi pengalaman mengendalikan pertandingan besar lebih sulit ditemukan. Modric membawa itu semua dalam paket yang komplit.

Dominasi Pelatih Jerman di Sepak Bola Dunia


Dominasi pelatih Jerman di sepak bola dunia merupakan fenomena yang menarik dan signifikan dalam dua dekade terakhir. Mereka telah membentuk wajah sepak bola modern dengan pendekatan taktis yang disiplin, inovatif, dan fleksibel. Berikut adalah beberapa aspek penting yang menunjukkan dominasi tersebut:


🔥 1. Kebangkitan Pasca Tahun 2000

Setelah kegagalan Jerman di Euro 2000, DFB (Asosiasi Sepak Bola Jerman) melakukan reformasi besar-besaran dalam sistem pembinaan pemain dan pelatih. Hasilnya:


- Pembentukan akademi-akademi modern.

- Standarisasi pelatihan pelatih muda.

- Penekanan pada permainan ofensif dan kreatif.

- Pelatih-pelatih lulusan sistem ini tidak hanya sukses di Jerman, tapi juga di seluruh dunia.


🧠 2. Gaya Kepelatihan yang Modern dan Progresif

Pelatih Jerman dikenal dengan gaya kepelatihan yang :

- Taktikal dan terorganisir.

- Mengutamakan intensitas tinggi (gegenpressing).

- Adaptif terhadap lawan.

Contoh nyata :

Gegenpressing (counter-pressing) dipopulerkan oleh pelatih seperti Jürgen Klopp dan kemudian diadopsi oleh banyak klub Eropa.


🌍 3. Pelatih Jerman yang Mempengaruhi Sepak Bola Dunia

🇩🇪 Jürgen Klopp

- Membawa Borussia Dortmund ke final Liga Champions 2013.

- Membangun kembali Liverpool, juara UCL 2019 dan Liga Inggris 2020.

- Filosofinya sangat berpengaruh di Inggris dan Eropa.


🇩🇪 Thomas Tuchel

- Meneruskan gaya Klopp dengan pendekatan lebih taktis dan fleksibel.

- Membawa Chelsea juara Liga Champions 2021.

- Melatih PSG, Chelsea, dan Bayern München.


🇩🇪 Hansi Flick

- Membawa Bayern München meraih treble (2020).

- Timnya dikenal sangat efisien dan tajam secara taktis.

- 🇩🇪 Ralf Rangnick


Bapak gegenpressing.

- Mempengaruhi Klopp, Tuchel, Hasenhüttl, Nagelsmann.

- Kontribusi besarnya di Red Bull Leipzig dan sistem klub Red Bull diakui luas.


🏆 4. Dominasi di Klub-Klub Besar Eropa

Banyak klub top Eropa mempercayakan proyek besar mereka pada pelatih Jerman:

- Liverpool (Klopp)

- Chelsea (Tuchel)

- Bayern München (Nagelsmann, Tuchel, Flick)

- Manchester United (Rangnick sebagai konsultan/pelatih interim)

- PSG (Tuchel)


📌 Kesimpulan

Dominasi pelatih Jerman di sepak bola dunia bukan hanya karena kesuksesan mereka di lapangan, tapi juga karena:


Inovasi taktik.

Sistem pembinaan yang kuat.

Kemampuan beradaptasi di berbagai budaya sepak bola.

Mereka tidak hanya melatih, tapi mendefinisikan ulang bagaimana sepak bola modern dimainkan.

Pernah Gacor di MU, Wayne Rooney Ungkap Perjuangan Kelam Lawan Alkohol, Coleen Jadi Penopang Hidup


Ikon Manchester United sekaligus legenda sepak bola Inggris, Wayne Rooney, akhirnya buka suara soal masa kelam dalam hidupnya. Ia mengakui pernah terjerat kecanduan alkohol yang hampir merenggut nyawanya, sebelum diselamatkan oleh kehadiran sang istri, Coleen. Hal itu diungkapkan Rooney saat hadir sebagai bintang tamu dalam podcast Rio Ferdinand Presents.


Rooney, yang selama bertahun-tahun menjadi wajah utama Manchester United dan timnas Inggris, masih dikenang sebagai salah satu penyerang terbaik generasinya. Ia juga pernah memegang rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa MU sebelum kemudian disalip pada era berikutnya.


Namun, di balik gemerlap prestasi dan sorotan, Rooney ternyata menyimpan pergulatan pribadi yang tak diketahui banyak orang, pertempuran panjang melawan alkohol.


Pengakuan Rooney

Dalam ceritanya, Rooney menyingkap betapa jauhnya ia berusaha menutupi kebiasaannya. Dari menggunakan obat tetes mata hingga mengunyah permen karet sebelum latihan, semua dilakukannya demi menutupi bau dan jejak alkohol.


“Saya hanya ingin menikmati waktu bersama teman-teman. Tapi pada akhirnya saya melewati batas. Saat itu saya benar-benar kesulitan dengan alkohol. Rasanya tak mungkin meminta pertolongan dari siapa pun,” ungkap Rooney.


Ia menggambarkan rutinitas berbahayanya: mabuk hingga dua hari penuh, tetap datang berlatih, lalu setelah mencetak gol di akhir pekan, kembali mengulang siklus tersebut. Pola ini berlangsung terus sampai akhirnya Coleen mengambil langkah penting yang mengubah hidupnya.


Peran Penyelamat Coleen

Rooney menyebut Coleen sebagai orang yang paling berjasa dalam menyelamatkan hidupnya. Sejak sama-sama tumbuh di Croxteth hingga akhirnya menikah, Coleen sudah memahami karakter Rooney luar dalam.


“Dia sudah melihatnya sejak awal. Dia banyak membantu saya mengontrol diri. Kadang saya merasa kesal karena dia sering melarang ini-itu. Tapi sekarang saya sadar, tanpa dirinya mungkin saya sudah tiada. Saya benar-benar percaya itu,” ujar Rooney.


Meski mengakui sejumlah kesalahan besar yang pernah terjadi dalam hidupnya, Rooney menegaskan bahwa keberadaan Coleen adalah faktor kunci yang membuatnya tetap bertahan dan tidak terjerumus lebih jauh.


Kisah ini memperlihatkan sisi manusiawi seorang bintang sepak bola. Bahwa di balik ketenaran dan pencapaian luar biasa, ada pergulatan batin yang tak kasat mata, dan sering kali, keberadaan pasangan hidup mampu menjadi pembeda antara kehancuran dan kesempatan untuk bertahan.

Raheem Sterling Masi Bertahan di Chelsea, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

 


Raheem Sterling masih menjadi sorotan besar di Chelsea. Situasinya semakin menarik setelah bursa transfer di berbagai negara resmi ditutup.


Meski ada banyak spekulasi, winger berusia 30 tahun itu tetap bertahan di Stamford Bridge. Tak ada kesepakatan yang tercapai meski peluang sempat terbuka di beberapa liga.


Chelsea sendiri memasukkan Sterling ke daftar pemain yang harus berlatih terpisah. Bahkan fotonya tak muncul dalam potret resmi skuad musim 2025/2026.


Sterling sebelumnya adalah rekrutan besar Chelsea pada 2022 dengan harga 47,5 juta pounds. Ia juga menjadi pemain dengan gaji tertinggi di klub saat itu.


Situasi Sterling di Chelsea

Sterling kini berlatih jauh dari skuad utama di Cobham. Hal ini membuat perannya semakin terpinggirkan.


Ia menjalani program bersama Axel Disasi, yang bernasib sama. Keduanya bahkan sempat digabung dengan tim U-21 demi menjaga kebugaran.


PFA ikut memantau kondisi Sterling. Namun, karena Chelsea tetap memberi fasilitas latihan, tak ada pelanggaran besar yang ditemukan.


Meski begitu, publik tetap menyoroti perlakuan terhadap pemain senior ini. Situasinya dianggap mencerminkan kebijakan tegas manajemen klub.


Faktor Gaji dan Pilihan Karier

Dilansir The Athletic, salah satu kendala utama transfer Sterling adalah gajinya. Ia mendapat bayaran lebih dari 300 ribu pounds per pekan.

Biaya besar itu membuat klub lain ragu merekrutnya, baik permanen maupun pinjaman. Bahkan saat ada tawaran, kesepakatan tak pernah mendekati final.

Bayern Munchen sempat mencoba membawanya ke Jerman. Namun, Sterling menolak dengan alasan ingin tetap tinggal di London bersama keluarganya.

Sterling juga menolak opsi Arsenal yang sempat meminjamnya musim lalu. Minimnya menit bermain membuatnya tidak ingin mengulang pengalaman yang sama.


Masa Depan yang Belum Jelas

Sterling masih terikat kontrak hingga 2027. Nilainya mencapai sekitar 30 juta pounds.

Chelsea tidak mungkin membayar penuh hanya untuk memutus kontrak lebih cepat. Sementara Sterling tak akan melepas haknya begitu saja.

Kompromi jadi satu-satunya jalan keluar. Namun, hingga kini belum ada titik temu antara kedua pihak.

Situasi ini membuat Sterling bisa semakin lama tanpa menit bermain kompetitif. Kondisi itu tentu bisa memengaruhi kariernya ke depan.

Rabu, 24 September 2025

Hasil Huddersfield vs Manchester City


Huddersfield Town menjamu Manchester City pada babak ketiga Carabao Cup 2025/2026, Kamis (25/9) dini hari WIB. Laga yang digelar di Accu Stadium tersebut berakhir dengan kemenangan City 2-0.


Sejak awal pertandingan, City tampil dominan dalam penguasaan bola meski kesulitan menembus pertahanan rapat tuan rumah. Gol baru tercipta pada menit ke-18 melalui aksi cemerlang Phil Foden.


Proses gol bermula dari kombinasi cepat antara Foden dan Mukasa di tepi kotak penalti. Setelah menerima umpan kembali, Foden melepaskan tembakan rendah terarah ke sudut jauh yang gagal dijangkau kiper Huddersfield.


Sepanjang babak pertama, Huddersfield lebih sering bertahan dan minim keluar dari area mereka. Peluang terbaik tuan rumah lahir pada menit ke-39 ketika Redmond mengirimkan umpan kepada Wiles di kotak penalti. Namun hingga jeda, City tetap unggul tipis 1-0.


Babak Kedua : Savinho Tambah Keunggulan Man City

Memasuki paruh kedua, Huddersfield mencoba memberikan tekanan, tetapi perbedaan kualitas tetap terlihat jelas meski City menurunkan beberapa pemain pelapis.


City hampir menambah keunggulan pada menit ke-52 melalui O’Reilly yang lolos dari kawalan, sebelum Huddersfield membalas lewat sepakan voli Redmond usai menerima umpan Feeney.


Gol kedua akhirnya tercipta di menit ke-74. Umpan Foden menemui Savinho yang berdiri bebas, lalu diselesaikan dengan tendangan keras. Bola sempat membentur mistar sebelum masuk ke gawang, membuat City semakin menjauh dengan skor 2-0.


Hingga laga berakhir, skor tidak berubah. Dua gol dari Phil Foden dan Savinho memastikan Huddersfield, yang kini dilatih Lee Grant, mantan kiper Manchester United, tersingkir dari Carabao Cup musim 2025/2026.


Daftar Susunan Pemain

Huddersfield (4-2-3-1) : Lee Nicholls; Lasse Sorensen; Josh Feeney, Murray Wallace, Sean Roughan; Ben Wiles, David Kasumu; Marcus Harness, Zepiqueno Redmond, Daniel Vost; Dion Charles.

Manajer : Lee Grant.


Manchester City (4-1-4-1) : James Trafford; Matheus Nunes, John Stones, Nathan Ake, Nico O'Reilly; Rico Lewis; Oscar Bobb, Phil Foden, Nico Gonzalez, Savinho; Divine Mukasa.

Manajer : Pep Guardiola.

Manfaat dan Khasiat Buah Jambur Biji Merah

Buah jambur biji merah   atau yang lebih dikenal dengan nama jambu biji merah (Psidium guajava)  merupakan salah satu buah tropis yang kaya...