Jika kita melihat
kompetisi tahunan Eropa, selalu ada yang menarik untuk dibahas, apalagi dengan format 36 tim muncul klub-klub yang awam didengar. Tapi, tidak ada yang lebih bikin kaget dan banyak orang tak menyangka adalah kompetisi kasta kedua,
UEFA Europa League.
Hasil drawing cukup mengejutkan publik, sebab banyak klub besar yang justru masuk di turnamen oranye ini. Kita sering melihat tim ini di Champions League, juga mentereng di liga domestiknya. Mereka sering jadi kampiun, bahkan komitmen di lima tangga teratas. Namun, mengapa mereka justru bertarung di laga kasta kedua musim ini?
Langganan UCL Terjun Bebas Bergelut di Europa League
Menilik hasil drawing league phase Europa, ada tim besar memulai helatan klub Eropa pada musim ini. Mereka tampil apik di Liga domestik, namun pada playoff UCL justru tumbang dan terjun ke Europa League. Siapa saja klub yang akan meramaikan dan bisa diprediksi menjadi kampiun edisi 2025/26?
FC Porto
Kita sering melihat FC Porto tampil di Liga Champions. Pemenang edisi 2004 ini bertapak di urutan ketiga yang mengantar mereka ke fase liga Europa League. Secara statistik musim lalu, The Dragons - julukan FC Porto mengumpulkan 71 poin, dan melesakkan 65 gol dan kebobolan 30 gol.
Tim asuhan Francesco Farioli ini pernah tampil di Europa League dua kali, yaitu edisi 2002/03 dan 2010/11 sebagai kampiun. Pengalaman sempurna ini menjadi energi lebih untuk bertanding di kompetisi kasta kedua musim 2025/26, disertai komposisi dan strategi yang dimiliki dapat diprediksi sampai ke partai puncak.
Edisi kali ini, Porto akan bertemu dengan tim underdog yang cukup tangguh. Mereka akan bertandang ke RB Salzburg, Viktoria Plzen, Nottingham Forest dan FC Utrecht dan kedatangan tamu finalis edisi 2022/23, Rangers, Crvena Zvezda, OGC Nice dan Malmo.
Kewaspadaan mereka justru berada di Inggris dan Austria serta bertemu finalis Europa League, yang mana Nottingham kali ini sedang onfire dan memiliki skuad top. Bisa saja menjadi batu sandungan The Dragons yang ingin meraih hasil positif. Mencuri poin di kandang kala bertemu Rangers masih dapat diupayakan, meskipun dalam prediksi bisa meraih satu poin.
Pertandingan tandang lainnya ke Austria juga cukup mengejutkan. Pasalnya, RB Salzburg tidak dapat dipandang remeh. Pabrik talenta muda yang melahirkan Erling Haaland ini sudah beberapa kali menjadi kuda hitam tangguh di gelaran UCL maupun UEL. Tim asuhan Farioli perlu berhati-hati pada saat bertandang ke RedBull Arena.
AS Roma
Klub asal Italia yang satu ini sering sekali tampil di UCL pada dua dekade sebelumnya. AS Roma, cukup menjadi kejutan di kompetisi teratas Eropa yang sering lolos ke fase knockout. Beberapa momen yang paling dikenang adalah menjadi semifinalis edisi 2017/18 melawan Liverpool dengan agregat 6-7, dan terakhir di musim 2018/19 dikalahkan FC Porto.
Il Lupi - julukan AS Roma ini pernah menjadi juara di UEFA Conference League pertama di musim 2021/22 mengalihkan Feyenoord dengan skor 1-0. Pengalaman di Europa League yang dimiliki sangat bagus, yakni menjadi finalis di edisi 1990/91 melawan Inter Milan dan 2022/23 melawan Sevilla yang sudah disebut King of UEL sebab tujuh trofi yang mampir ke lemari .
Asuhan Gasperini di gelaran kali ini akan menjamu OSC Lille, Midtjylland, Viktoria Plzen, VFB Stuttgart dan bertandang ke Rangers, OGC Nice, Celtic dan Panathinaikos. Berburu poin di Glasgow bisa jadi 50-50 sebab mereka lebih memiliki pengalaman di kompetisi Eropa. Taji mereka akan diuji dengan bertemu dua wakil Prancis dan finalis DFB-Pokal, VFB Stuttgart.
Olympique Lyonnais
Terbang ke selatan Eropa, melihat
klub yang cukup terkenal dengan pemain-pemain berkualitas dan kompetitif di turnamen Eropa. Klub tangguh asal Prancis, Olympique Lyonnais, tidak bisa dipandang sebelah mata yang bisa menjadi hambatan klub lain untuk merebut tiket knockout stage.
Pengalaman di kompetisi Eropa yang banyak mampir ke UCL, dengan torehan terbaiknya menjadi semifinalis pada edisi 2019/2020 melawan Bayern Munchen. Pada dekade 2020-an ini, Lyon justru sering bertarung di kompetisi oranye dan selalu mengunci tiket fase gugur.
Lyon akan bertemu dengan RB Salzburg, FC Basel, PAOK, Go Ahead Eagles di kandang, dan bertandang ke Real Betis, BSC Young Boys, Maccabi Tel-Aviv dan FC Utrecht. Laga tak terlalu sulit bagi Les Gones di fase liga, namun pertemuan di Benito Villamarin cukup menantang. Finalis Conference League musim lalu ini dapat menjadi lawan berat nan sepadan bagi Lacazette dan kolega.
Aston Villa
Kampiun Champions League edisi 1981/82 setelah menumbangkan raksasa Jerman, Bayern Munchen, menjadi spirit berjuang di kompetisi Eropa. Walaupun pengalamannya meredup di dekade 2000-an sampai 2010-an, Aston Villa tampil bagus di era 2020-an dengan lolos ke UEFA Conference League 2023/24 dengan bertempat di quarter final dan Champions League 2024/25 sampai ke fase quarter final.
Pasukan Unai Emery akan berjibaku melawan RB Salzburg, BSC Young Boys, Maccabi Tel-Aviv, Bologna di Villa Park, dan melakoni laga tandang dengan Feyenoord, FC Basel, Fenerbahce dan Go Ahead Eagles. Mendatangkan dua pemain The Red Devils bagi The Villans bukan menjadi jalan terjal, sebab pada tiap laga yang dilakoni selalu mendapat hasil positif dan menjadi modal di gelaran Eropa.
Sejarah dan prestasi mereka tidak dapat dianggap sebelah mata, meskipun mereka adalah langganan Champions League yang memiliki pengalaman yang bagus. Klub yang menandingi mereka tentu perlu strategi matang dan taktik terbaik untuk mencuri poin penuh.
Kini, mereka akan tampil di kasta kedua kompetisi Eropa dengan modal apik di liganya. Akankah salah satunya mampu menjadi juara Europa League atau justru memunculkan jawara baru nan mengejutkan jagad sepakbola? Patut kita saksikan bersama di setiap laga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar