Setiap pagi, sebelum matahari naik sepenuhnya, aroma khas teh selalu memenuhi dapur saya. Bukan karena saya pecinta teh sejati setidaknya bukan sejak awal. Tapi karena secangkir teh menyimpan lebih banyak cerita daripada sekadar rasa.
Cangkir teh pertama yang saya buat bukanlah untuk diri saya sendiri. Itu untuk ibu.
Dulu, saat saya masih kecil, saya sering melihat ibu duduk di sudut dapur dengan cangkir teh hangat di tangannya. Bukan teh mahal, hanya seduhan teh celup biasa, kadang ditambah irisan jahe atau perasan jeruk nipis. Tapi cara ibu menyeruputnya seolah-olah itu minuman terbaik di dunia. Di situlah saya belajar bahwa teh bukan hanya soal rasa, tapi tentang momen momen hening, momen damai, momen memulai hari dengan perlahan.
Ketika ibu mulai sakit-sakitan, saya mulai membuatkan tehnya setiap pagi. Awalnya asal-asalan. Tapi lama-lama, saya memperhatikan betul berapa lama daun tehnya direndam, seberapa panas airnya, apakah ia sedang ingin teh dengan madu atau tidak. Dari sana, saya belajar bahwa perhatian bisa hadir dalam hal-hal kecil. Termasuk dalam secangkir teh.
Setelah ibu tiada, rutinitas membuat teh itu tetap saya jalankan. Awalnya karena kebiasaan, tapi lama-lama karena kebutuhan. Rasanya aneh jika dapur pagi hari tanpa wangi teh. Seolah ada ruang kosong yang tak terlihat, tapi terasa.
Kini, setiap kali saya membuat teh, saya tahu saya sedang menyeduh kenangan. Setiap seduhan adalah sapaan pagi pada seseorang yang sudah tidak di sini, tapi hadir dalam aroma dan rasa yang tertinggal.
Jadi, jika suatu hari kamu berkunjung ke dapur saya dan mencium wangi teh yang menenangkan, ketahuilah itu bukan sekadar teh. Itu adalah kenangan, kasih sayang, dan keheningan yang berbicara lebih dari kata-kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar