Dunia perfilman Indonesia kembali kedatangan sajian horor terbaru berjudul Getih Ireng, yang resmi tayang di bioskop mulai 16 Oktober 2025. Film ini diarahkan oleh Tommy Dewo dan diangkat dari utas viral karya akun JeroPoint, yang sempat ramai di media sosial karena kisahnya yang dianggap terlalu nyata untuk sekadar cerita fiksi.
Proyek ini digarap oleh Hitmaker Studios bersama Legacy Pictures dan Masih Belajar Pictures, menghadirkan kolaborasi antara kekuatan produksi besar dan naskah rakyat yang lahir dari dunia digital.
Di jajaran pemeran utama, tampil Titi Yang sebagai Rina, dan Darius sebagai Pram. Keduanya ditemani oleh Sara , yang dikenal kerap membintangi film bertema supranatural. Nama-nama ini membuat Getih Ireng tak hanya menjanjikan kisah menyeramkan, tetapi juga kedalaman akting yang emosional.
Cerita film ini berpusat pada sepasang suami-istri, Pram dan Rina, yang dilanda keputusasaan karena terus gagal mendapatkan keturunan. Dalam usaha mereka untuk memiliki anak, muncul santet akibat dendam lama yang disebut "getih ireng" --- darah hitam yang diyakini sebagai warisan dari masa silam keluarga. Kutukan itu menyerang anak mereka dalam durasi 7 hari, 7 bukan dan 7 tahun , menciptakan lingkaran penderitaan yang tak bisa dijelaskan dengan logika modern.
Film ini memadukan dua lapisan utama : kepercayaan mistis tradisional dan kehidupan modern. Di satu sisi, Pram dan Rina mewakili generasi urban yang berpendidikan dan rasional; di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan kekuatan lama yang tak kasat mata --- kekuatan yang bahkan sains pun tak mampu menyingkapnya. Dari situ, Getih Ireng menampilkan benturan antara dunia spiritual dan dunia modern, antara doa dan diagnosis, antara keyakinan dan ketakutan.
Tema "santet darah hitam" menjadi inti konflik film ini. Ia bukan sekadar kisah seram, melainkan refleksi atas bagaimana masa lalu yang kelam bisa terus menghantui generasi berikutnya. Seolah-olah, ada darah yang tak bisa dibersihkan oleh waktu, dan ada luka yang diwariskan dari satu jiwa ke jiwa lain. Dalam kerangka itu, film ini tak hanya berbicara tentang hantu, tapi juga tentang trauma, kehilangan, dan harapan manusia yang rapuh.
Sutradara Tommy Dewo mengarahkan kisah ini dengan menekankan suasana tegang yang konstan, bukan sekadar jump-scare. Dari cuplikan teaser yang dirilis, terlihat bahwa film ini menampilkan penampakan makhluk tak mainstream, menciptakan nuansa horor yang lebih simbolik dan misterius ketimbang sekadar menakut-nakuti.
Kekuatan utama Getih Ireng terletak pada upayanya untuk menyatukan ketakutan batin dan ketakutan spiritual dalam satu bingkai. Ia membuat penonton bertanya: apakah kutukan itu sungguh nyata, ataukah hanya manifestasi dari luka batin yang belum sembuh? Jawaban itu, mungkin, tak akan pernah jelas --- dan di situlah letak horornya.
Dengan durasi yang dikemas padat dan jajaran pemeran yang solid, film ini menandai keberanian baru industri horor nasional untuk menggabungkan kisah rakyat, trauma keluarga, dan gaya sinematik modern. Getih Ireng bukan hanya cerita mistis, melainkan juga cermin bagi banyak orang yang hidup dengan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah selesai.
Yang jelas film ini juga memiliki akhir yang seru dan mendebarkan. Ayo saksikan !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar