Pada tahun 2022, saat mengunjungi Pameran Kampung Purba di De Tjolomadoe, Karanganyar, ada satu replika lukisan besar yang langsung mencuri perhatian. Lukisan itu menampilkan sosok hewan yang menyerupai anoa, dikelilingi oleh cap tangan manusia—sebuah gambaran yang seolah membawa kita kembali ke masa puluhan ribu tahun silam.
Dalam penjelasan yang menyertainya, disebutkan bahwa lukisan ini berusia sekitar 40.000 tahun dan ditemukan di sebuah gua di Sulawesi. Lukisan stensil tangan ini diakui sebagai yang tertua di dunia dalam kategorinya.
Meski pernah melihat sebelumnya di TV atau hanya melihatnya di Internet, ini melihat replikanya saja sudah kagum, apalagi melihatnya langsung. Setelah mencari tahu di Internet penemuan lukisan tertua ini tidak hanya satu, terdapat beberapa lukisan purba di gua-gua di daerah Sulawesi Selatan seperti di gua kapur, Leang Karampuang, Maros-Pangkep.
Lukisan gua tertuanya ada di Gua Leang Tedongnge yang diperkirakan berusia 45.500 tahun, bahkan terbaru ada yang diperkiraan berusia 51.200 tahun. Seperti yang diberitakan Kompas.com baru-baru ini. (sumber)
Tak jauh dari lokasi penemuan tersebut, terdapat pula lukisan babi yang diperkirakan berusia setidaknya 35.400 tahun. Lukisan ini menjadi salah satu karya seni figuratif tertua yang pernah ditemukan, membuktikan bahwa sejak zaman prasejarah, manusia telah memiliki naluri artistik untuk mengabadikan kehidupan mereka melalui seni.
Temuan ini mengungkap fakta menarik bahwa masyarakat prasejarah di kawasan tersebut telah melukis selama setidaknya 13.000 tahun. Ini menunjukkan bahwa seni dan kemampuan berpikir abstrak sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak zaman purba.
Kemampuan inilah yang kemudian mendorong perkembangan peradaban manusia, dari penguasaan api hingga inovasi teknologi seperti roda dan alat-alat lain yang mendukung kehidupan.
Sebelumnya, banyak yang beranggapan bahwa lonjakan kreativitas yang melahirkan seni dan sains modern berasal dari Eropa. Namun, temuan lukisan di Sulawesi membantah pandangan tersebut.
Profesor Chris Stringer dari Museum Natural History di London menegaskan bahwa penemuan ini berpotensi mengubah cara kita memahami sejarah evolusi intelektual manusia. (sumber)
Seni Prasejarah dan Tantangannya
Selama ini, lukisan-lukisan gua yang telah ditemukan dan diteliti umumnya berasal dari kawasan Eropa, seperti lukisan purba di gua-gua Spanyol yang terdapat di gua Altamira, Cova Dones serta Ardales, Adapun di Prancis seperti di Gua Lascaux dan di gua Magura Bulgaria. Namun, penemuan seni prasejarah di Gua Indonesia membuka cakrawala baru dalam memahami sejarah kreativitas manusia.
Para peneliti yang mempublikasikan temuannya di jurnal Nature meyakini bahwa lukisan-lukisan di gua-gua Sulawesi dapat memberikan wawasan lebih mendalam mengenai bagaimana manusia purba mengembangkan keterampilan artistik dan mulai mengekspresikan diri melalui seni.
Untuk memastikan keakuratan usia lukisan-lukisan ini, melansir dari BBC Indonesia tim ilmuwan dari Australia dan Indonesia melakukan penelitian terhadap lapisan stalaktit yang menutupi gambar-gambar tersebut. Metode ini memungkinkan mereka untuk menentukan perkiraan usia lukisan dengan lebih presisi, sehingga memberikan bukti bahwa seni rupa telah berkembang di berbagai belahan dunia jauh lebih awal dari yang selama ini diperkirakan.
Lukisan-lukisan ini dibuat oleh para seniman purba dengan teknik sederhana namun luar biasa. Mereka menggunakan tangan mereka untuk menempelkan pigmen alami ke permukaan dinding dan langit-langit gua, menciptakan karya seni yang bertahan hingga puluhan ribu tahun.
Pigmen yang digunakan untuk membuat lukisan gua berasal dari mineral, tanah liat, dan arang. Pigmen-pigmen tersebut antara lain:
Oker: Pewarna alami yang terbuat dari tanah liat yang mengandung oksida besi. Oker dapat menghasilkan warna kuning, coklat, dan merah. Adalagi Hematit: Mineral yang menghasilkan warna merah.
Untuk diketahui, oker adalah pewarna merah alami yang berasal dari ta nah liat berpigmen hematit atau mineral kemerahan yang mengandung zat besi teroksidasi. Zat besi teroksidasi adalah zat besi yang telah bercampur dengan oksigen," kata Paul Pettitt, seorang profesor arkeologi paleolitik di Universitas Durham, Inggris. Pettitt menjelaskan, karena oker pada dasarnya merupakan mineral, ia tidak mungkin luntur sehingga membuatnya tetap awet sampai berabad-abad. (sumber)
Zat besi atau hematit yang tergabung dalam membentuk pigmen zat warna oker kemudian dicampur dengan arang atau tulang yang dibakar lalu dikentalkan menjadi seperti cat menggunakan lemak hewani atau minyak alami lainnya. Pewarna seperti besi oksida dan arang juga tidak mudah pudar kecuali terpapar api atau bahan kimia. Di gua batuan kapur, rembesan air hujan yang melalui celah batu juga membantu melapisi lukisan gua dengan membentuk lapisan bikarbonat.
Teknik ini menunjukkan bahwa manusia sejak zaman prasejarah telah memiliki kesadaran estetika dan kemampuan untuk menyalurkan ekspresi kreatifnya melalui medium yang tersedia di lingkungan mereka. Lukisan-lukisan ini memperlihatkan bahwa kemampuan menciptakan seni bukanlah sesuatu yang baru saat manusia modern, melainkan sejak zaman purba.
Tantangan dalam penelitian seni prasejarah di berbagai belahan dunia masih sangat besar, terutama dalam menentukan usia pasti dari lukisan-lukisan gua yang ditemukan.
Dr. Adam Brumm, salah satu peneliti utama di Sulawesi, mengungkapkan bahwa banyak kawasan di Asia dan Australia juga memiliki karya seni purba yang luar biasa. Namun, hingga kini, masih banyak di antaranya yang belum diteliti secara akurat untuk mengetahui usianya. Keterbatasan metode penelitian, kondisi lingkungan, serta faktor alam menjadi kendala utama dalam mengungkap lebih jauh tentang jejak seni purba di wilayah tersebut
Tidak ada komentar:
Posting Komentar